Harga Kedelai Naik, Pemkot Bandung Pastikan Produksi Tahu dan Tempe Tetap Berjalan

BANDUNG – Kenaikan harga kedelai impor yang terus terjadi menjadi perhatian Pemerintah Kota Bandung. Di tengah harga yang kini telah melampaui Rp10.000 per kilogram hingga mendekati Rp11.000 per kilogram, Pemkot berupaya memastikan produksi tahu dan tempe tetap berlangsung agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pemerintah daerah tidak memiliki ruang yang besar untuk mengendalikan harga karena kedelai merupakan komoditas impor yang dipengaruhi mekanisme pasar internasional.

“Harga kedelai sekarang sudah di atas Rp10.000 per kilogram, bahkan mendekati Rp11.000. Karena ini barang impor, kita mengikuti mekanisme pasar,” ujar Farhan saat ditemui di Balai Kota Bandung, Jumat (12/6/2026).

Menurut Farhan, fokus pemerintah saat ini bukan hanya menyikapi kenaikan harga, tetapi juga menjaga agar pelaku usaha tahu dan tempe tetap dapat menjalankan produksinya. Industri tersebut dinilai memiliki peran penting sebagai penyedia pangan sekaligus penyerap tenaga kerja.

Untuk itu, Pemkot Bandung mengimbau para perajin meningkatkan efisiensi dalam proses produksi sehingga dampak kenaikan harga bahan baku dapat ditekan.

“Kita mengimbau kepada para pengrajin tahu dan tempe agar lebih efisien. Yang penting produksi jangan sampai berhenti,” katanya.

Selain mendorong efisiensi, pemerintah juga berupaya menjaga kelancaran distribusi dan akses pemasaran produk tahu serta tempe di berbagai wilayah Kota Bandung. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan tetap tersedia bagi masyarakat.

Pemkot juga berupaya mempertahankan daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga. Menurut Farhan, keseimbangan antara harga jual dan kemampuan konsumen menjadi faktor penting agar produk olahan kedelai tetap terjangkau.

Ia menegaskan keberlangsungan industri tahu dan tempe harus dipertahankan karena memiliki nilai strategis bagi ketahanan pangan dan perekonomian lokal. Pemerintah pun akan terus mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif di tengah fluktuasi harga bahan baku.

“Yang paling penting produksi tahu dan tempe jangan sampai berhenti,” tegas Farhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *