49 Startup Riset Ikuti Bootcamp PRIME STeP di Bogor, Perkuat Inovasi Menuju Industri Nasional

BOGOR – Sebanyak 49 startup berbasis riset mengikuti bootcamp program Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks Project (PRIME STeP) di Kampus IPB University Taman Kencana, Bogor.

Program yang berlangsung pada Senin (20/7/2026) tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar mampu berkembang menjadi produk inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing nasional.

Melalui kegiatan bootcamp, para peserta mendapatkan berbagai pendampingan, mulai dari penguatan model bisnis, pengembangan strategi usaha, perluasan jejaring, hingga pembinaan untuk membangun ekosistem startup berbasis teknologi yang berkelanjutan.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr Fauzan Adziman, mendorong para startup peserta agar memanfaatkan program PRIME STeP sebagai momentum mempercepat pengembangan inovasi mereka.

Fauzan mengatakan, pemerintah membutuhkan lebih banyak produk inovasi hasil riset perguruan tinggi yang mampu dikembangkan menjadi industri nasional.

“Selamat kepada 49 startup yang tergabung dalam PRIME STeP. Ini kesempatan yang sangat baik. Pendanaan program ini sangat besar sehingga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujar Fauzan.

Ia menjelaskan, melalui Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026, Presiden RI memberikan arahan agar perguruan tinggi berperan sebagai motor penggerak industrialisasi nasional, inovasi, dan kemandirian ekonomi.

Karena itu, pemerintah terus melakukan identifikasi terhadap berbagai hasil riset yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dengan dukungan investasi dan kolaborasi lintas sektor.

Menurut Fauzan, startup tidak cukup hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga harus membangun fondasi usaha yang kuat serta ekosistem yang mampu mendukung keberlanjutan perusahaan.

Ia menilai kolaborasi antara startup, investor, industri, dan perguruan tinggi menjadi kunci agar inovasi dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Fauzan juga mengapresiasi ekosistem inovasi IPB University yang dinilai mampu menghubungkan proses penelitian, inkubasi, hingga pengembangan usaha berbasis teknologi.

Sementara itu, Rektor IPB University Dr Alim Setiawan menyampaikan apresiasi kepada Kemdiktisaintek dan Asian Development Bank (ADB) atas dukungan terhadap pengembangan startup berbasis riset di lingkungan kampus.

Alim mengatakan, IPB University terus memperkuat ekosistem startup agar pendampingan tidak berhenti setelah proses inkubasi selesai.

“Kami telah menerbitkan Peraturan Rektor untuk membangun ekosistem startup yang lebih berkelanjutan. Startup yang telah berkembang diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada kampus yang nantinya digunakan kembali untuk mendukung startup-startup baru,” katanya.

Perwakilan ADB, Theresia Sembiring, menyebut sebanyak 49 startup mengikuti PRIME STeP 2026 yang terdiri atas 35 startup tahap inkubasi dan 14 startup tahap akselerasi.

Ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan masa bootcamp selama tiga hari untuk mengembangkan jaringan, menguji model bisnis, serta mendapatkan pembelajaran dari mentor dan praktisi industri.

Theresia menegaskan, keberhasilan inovasi tidak hanya dilihat dari publikasi ilmiah, tetapi dari kemampuan riset tersebut memberikan manfaat nyata, menciptakan nilai tambah ekonomi, serta membuka lapangan kerja.

ADB juga mendukung studi pemetaan Science and Technology Park (STP) di Indonesia untuk mengidentifikasi faktor keberhasilan pengembangan ekosistem inovasi.

“Startup tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun solusi, menciptakan nilai, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutup Theresia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *