Viral Klaim IPB Rekonstruksi Wajah Nenek Moyang Nusantara, Begini Fakta Sebenarnya

PANTAUJABAR – Sebuah unggahan yang beredar di media sosial mengklaim ilmuwan IPB University berhasil membuat model tiga dimensi (3D) wajah “nenek moyang pertama asal Nusantara”. Setelah dilakukan penelusuran, klaim tersebut dipastikan tidak benar.

Klarifikasi resmi telah disampaikan IPB University melalui akun Instagram IPBToday. Dalam pernyataannya, IPB menegaskan tidak pernah melakukan maupun mempublikasikan penelitian seperti yang disebutkan dalam unggahan viral tersebut.

Unggahan itu menampilkan visual rekonstruksi wajah manusia purba dengan narasi seolah-olah merupakan hasil riset IPB University. Padahal, gambar yang digunakan diketahui berasal dari penelitian berjudul Homo erectus calvaria from Ngawi (Java) and its evolutionary implications yang diterbitkan dalam jurnal Anthropological Science pada 2015.

Penelitian tersebut merupakan kolaborasi ilmuwan dari Jepang dan Indonesia, termasuk Yousuke Kaifu, Iwan Kurniawan, Daisuke Kubo, Erick Sudiyabudi, Gunawan Pontjo Putro, Endang Prasanti, Fachroel Aziz, dan Hisao Baba. Kajian tersebut membahas analisis fosil tempurung kepala Homo erectus yang ditemukan di Ngawi, Jawa Timur, untuk memahami perjalanan evolusi manusia.

Tidak ada bagian dalam penelitian tersebut yang menyebut IPB University sebagai pelaksana riset, maupun menyatakan telah berhasil merekonstruksi wajah “nenek moyang pertama asal Nusantara” sebagaimana narasi yang beredar di media sosial.

Sejumlah warganet menduga meme tersebut dibuat sebagai konten humor atau satire. Dugaan itu muncul karena hasil rekonstruksi wajah pada gambar dianggap memiliki kemiripan dengan seorang tokoh politik nasional yang selama ini kerap menjadi bahan perbincangan di media sosial. Meski demikian, penggunaan nama IPB University dalam narasi tersebut tetap berpotensi menyesatkan masyarakat karena memberikan legitimasi yang tidak sesuai fakta.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa informasi yang beredar di media sosial perlu diverifikasi sebelum dipercaya maupun dibagikan. Nama perguruan tinggi, lembaga penelitian, maupun jurnal ilmiah kerap dicatut untuk meningkatkan kredibilitas sebuah unggahan, padahal substansinya belum tentu benar.

Masyarakat diimbau mengutamakan informasi dari sumber resmi dan membaca konteks penelitian secara utuh agar tidak mudah terjebak dalam penyebaran hoaks yang memanfaatkan nama institusi akademik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *