BOGOR, Pantau Jabar – Di balik deru alat berat yang tengah mengebut betonisasi jalan di kawasan Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, ada senyum tulus dari seorang perempuan paruh baya bernama Mak Ipah (58). Bagi Mak Ipah, aspal yang sedang dihampar bukan sekadar material konstruksi, melainkan “napas baru” bagi warung nasi kecilnya.
Sudah lebih dari sepuluh tahun Mak Ipah mengandalkan hidup dari para pelintas di jalur terjal Bogor Barat ini. Dulu, katanya, saat jalanan masih berbatu dan licin, ia seringkali harus gigit jari karena tak ada motor atau mobil yang berani lewat saat hujan turun.
“Dulu mah, kalau hujan turun, Mak cuma bisa duduk nunggu pelangi saja. Jalanan licin, orang takut mampir. Tapi sekarang lihat, jalanan sudah mulai mulus, orang kota juga sudah berani main ke sini lihat pemandangan,” cerita Mak Ipah kepada tim Pantau Jabar.
Kehadiran infrastruktur yang lebih baik di pelosok Bogor ini mulai membangkitkan asa para pelaku usaha kecil seperti dirinya. Mak Ipah kini tak lagi sekadar menjual nasi timbel, ia mulai merintis “spot foto” kecil di depan warungnya yang menghadap langsung ke hamparan perbukitan hijau.
Ia adalah potret nyata bagaimana pembangunan di Jawa Barat bukan hanya soal angka dan target dinas, tapi soal bagaimana seorang ibu bisa kembali percaya diri menyekolahkan anaknya dari hasil dagangan yang ramai.
Mak Ipah hanyalah satu dari ribuan wargi Jabar yang menaruh harapan besar pada konektivitas wilayah. Baginya, jalan yang mulus adalah jalan menuju kesejahteraan yang selama ini ia impikan di kaki gunung.
Wargi punya cerita inspiratif serupa di lingkungan sekitar? Yuk, berbagi dengan kami melalui DM atau mention Pantau Jabar!
Reporter: Tim Pantau Jabar Editor: Redaksi Pantau Jabar

